RSS
SELAMAT DATANG IN MY BLOG.

Monday, March 8, 2010

HUTAN YANG AKU RINDU

Dulu di desa ku tepatnya desa karang anyar kec karang anyar.. tempat aku di didik dan di lahirkan di situ aku besar.. aku sangat merindukan hutan yang lebat dan tersa sejuk bila siang hari namun kina semua telah berubah kini hutan yang dulu begitu lebat dan indah serta hutan yang jadi tempat hidup binatang di hutan kini tengah habis.. dulu tanah d sekitar daerah yang terdapat di sebrang sungai bengawan solo begitu subur tapi kini tanah telah menjadi gersang bila musim kemarau tiba tanah benar-benar kering bahkan sekang para petani di sana banyak yang mengalami gagal panen....sebenarnya kerusakan hutan ini disebabkan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.tapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para orang-orang yang mencari rezeki dari hutan yang mengakibatkan hutan kita gundul...mereka melakukan itu karena terhimpit kebutuhan ekonomi.karena dari situ mereka hanya bisa makan.ya biarlah yang lalu itu berlalu sekarang mari kawan-kawan kita HIJAUKAN LAGI HUTAN KITA..aku yakin kita bisa..karena kerusakan hutan itu tidak terjadi hanya di tempat q saja tapi hampir di seluruh hutan indonesia.kembalikanlah nama inidonesia sebagai PARU_PARU DUNIA..kalau bukan kita siapa lagi yang melakukan.tempat q tinggal itu hanya contoh kecil dari kerusakan hutan.. Selengkapnya...

SIFAT ALAM TERSURAT DALAM AL_QURAN

Harun Yahya

Sifat Alam Tersurat di Quran

Di awal abad ke-20, ilmuan Jerman Alfred Wegener mengungkapkan, benua di bumi telah ditempatkan bersamaan dengan awal fase pembentukan bumi. Para ahli geologi memahami bahwa yang dikatakan Wegener adalah benar pada tahun 1980, setelah 50 tahun kematiannya.

Penemuan -- yang dilakukan pada awal abad 20 -- gerakan kerak bumi dijelaskan oleh para ilmuwan sebagai berikut. Kerak terluar bumi dengan ketebalan 100 km persegi, terbagi atas dua bagian: yang disebut sebagai semacam piringan. Ada 6 piringan-piringan utama, dan beberapa berukuran kecil.

Menurut teori yang disebut plate tectonics, piringan-piringan ini bergerak di atas bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Gerakan benua telah diukur yaitu 1 - 5 cm per tahun. Karena piringan-piringan tersebut terus-menerus bergerak, hal ini menyebabkan perubahan secara perlahan pada geografi bumi. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantik menjadi lebih lebar sedikit demi sedikit.

Fakta ilmiah itu, sesungguhnya telah tercantum pada Alquran. Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Alloh yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Surat an-Naml, 88)


Ada hal penting yang dinyatakan di sini: Allah telah menunjukkan gerakan gunung-gunung sebagai suatu gerakan terapung dalam ayat tersebut. Kini, ilmuan modern menggunakan istilah continental drift atau benua yang mengapung untuk mengatakan hal ini.

Selain itu, Quran pun menyebutkan, gunung-gunung memiliki fungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh seorang pun pada zaman Al Quran diturunkan pertama kali. Ini merupakan fakta yang membawa pencerahan masa kini sebagai hasil penemuan geologi modern.

Berdasarkan penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tabrakan dari lapisan massive yang membentuk kulit bumi. Ketika dua lapisan tadi bertabrakan, lapisan yang lebih kuat berada di bawah lapisan lainnya, dan lapisan yang berada di atas mengkerut dan membentuk dataran tinggi atau gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah tanah dan membentuk suatu lapisan bawah yang luas dan dalam. Ini berarti gunung-gunung yang terbentang di bawah daratan memiliki ukuran sama besarnya dengan yang terlihat di permukaan bumi.

Dalam sebuah tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut: Jika benua-benua berukuran lebih tebal, setebal gunung-gunung itu, kerak bumi akan terbenam lebih dalam di dalam lapisan. Dalam sebuah ayat, peranan gunung ditegaskan melalui sebuah perbandingan dengan pasak. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? (Surat an-Naba, 6-7)

Dengan kata lain gunung-gunung menggenggam lapisan dalam kerak bumi bersamaan dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik hubung lapisan-lapisan ini. Dengan cara ini, mereka mengokohkan kerak bumi dan menjaga agar tidak terapung di atas magma pada lapisan tersebut.

Singkatnya, kita bisa mengandaikan gunung-gunung seperti paku yang menjaga lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.

Fungsi pengokohan dari gunung-gunung ini dijelaskan dalam literatur ilmiah dengan terminologi isostasy. Isostasy diartikan sebagai keseimbangan dalam kerak bumi oleh suatu gerakan material bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi.

Peranan vital gunung-gunung yang ditemukan ahli geologi modern dan penelitian seismic telah dinyatakan dalam Alquran berabad-abad silam sebagai suatu contoh kearifan yang agung dalam karya-karya Tuhan. Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka (Surat al-Anbiya: 31).

Hal lain, ahli oceanography masa kini, menemukan sifat lautan yang bertemu bersama yang sebelumnya, tidak berpadu satu sama lain. Penyebabnya, kekuatan fisika yang dinamakan ''tekanan/tegangan permukaan'', perairan pada laut-laut yang bersebelahan tidak menyatu. Ini karena perbedaan densitas/kerapatan laut-laut tersebut, tekanan/tegangan permukaan mencegahnya dari berpadu satu sama lain seakan-akan ada dinding tipis diantaranya. Sifat lautan itu pun tersurat di Alquran. Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing (Surat ar-Rahman: 19-20)





republika
Selengkapnya...

KEAJAIBAN TUMBUHAN

Harun Yahya

Keajaiban Tumbuhan

Seorang mukmin berjalan di sebuah taman. Ia terpesona dengan keindahan taman yang merupakan kenikmatan Allah. Sesungguhnya, bagi yang sudi merenung, pada setiap benda hidup terdapat kebesaran-Nya.

Sebagai contoh, tanaman merambat yang melingkarkan tubuhnya mengelilingi sebuah dahan atau benda lain, merupakan fenomena yang perlu dipikirkan secara seksama. Jika pertumbuhan tanaman ini direkam dan dipertunjukkan ulang dengan cepat, akan terlihat bahwa tanaman merambat ini bergerak seolah-olah ia adalah makhluk yang memiliki kesadaran. Ia seolah-olah melihat dahan yang berada tepat di hadapannya, lalu ia mengulurkan dirinya ke arah dahan tersebut dan mengikatkan diri ke dahan seperti tali lasso.

Seorang mukmin yang menyaksikan semua ini kembali sadar bahwa Allah telah menciptakan semua benda hidup, dan bahwa Dia menciptakannya sebagai sistem yang unik dan tanpa cacat.

Ketika seseorang terus mengamati gerakan-gerakan tanaman ini, ia menemukan satu ciri menarik lain dari tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa batang tanaman merambat tersebut dengan kuat melekatkan dirinya di atas permukaan dimana ia berada dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya. Bahan yang kental yang diproduksi oleh tanaman yang tidak memiliki kesadaran tersebut merekat sedemikian kuat sehingga ketika tanaman ini dicoba untuk dipindahkan dengan cara menariknya dari tempat ia berada, maka cat yang ada ditembok akan ikut terangkat juga.

Begitupun dengan pepohonan. Pernahkan kita memikirkan bagaimana air mencapai dedaunan yang tinggi? Tidaklah mungkin bagi air dalam sebuah tanki di bagian bawah bangunan anda untuk naik ke lantai yang lebih atas tanpa adanya sebuah tanki hidroforik atau mesin pompa air yang kuat. Anda tidak akan mampu memompa air kendatipun hanya sampai ke lantai pertama. Oleh karena itu, sudah seharusnya ada sistem pemompaan yang mirip dengan mesin hidrofonik yang dimiliki oleh pohon.

Allah telah menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua sarana dan perlengkapan yang diperlukan. Tambahan lagi, sistem pemompaan di setiap pohon terlalu canggih dibandingkan dengan yang ada di bangunan tempat tinggal manusia.

Hal lain yang dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan. Dedaunan itu sesungguhnya bukan bentuk sederhana seperti yang terlihat mata. Dedaunan, misalnya, adalah sesuatu yang rentan dan mudah rusak. Namun, daun-daun ini tidak kering kerontang karena panasnya terik sinar matahari yang menyengat. Ketika seorang manusia berada pada suhu 40oC dalam waktu yang sebentar, warna kulitnya berubah, ia menderita dehidrasi. Sebaliknya, daun mampu untuk tetap hijau di bawah panas matahari yang menyengat tanpa terbakar selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan meskipun sangat sedikit sekali jumlah air yang mengalir melalui pembuluh-pembuluhnya yang mirip benang. Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ilmu yang tak tertandingi.

Begitulah, ketika menyusuri taman, kita memahami semua itu merupakan perwujudan sifat-Nya Yang Maha Indah (Al-Jamaal). Lihatlah: bunga daisy yang menguning. Kupu-kupu dengan ekornya yang indah meliuk di sela bunga.

Kupu-kupu, misalnya, adalah makhluk yang sangat indah dan elok untuk dilihat. Kupu-kupu, yang memiliki sayap dengan simetri dan disain semacam renda yang demikian teliti sehingga terlihat seolah-olah dilukis dengan tangan, dengan warna yang harmoni dan dipenuhi fosfor sehingga berpendar, adalah bukti daya seni yang tak tertandingi dari ciptaan Allah.

Banyaknya jenis tanaman dan pohon yang tak terhitung di muka bumi merupakan bagian dari keindahan ciptaan Allah. Bunga-bunga dengan warna yang beraneka-ragam dan berbagai bentuk pepohonan telah diciptakan sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia.

Seseorang yang memiliki keimanan akan berpikir bagaimana bunga seperti mawar, violet, daisy, hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga lainnya memiliki permukaan yang sedemikian mulus, bagaimana mereka muncul dari biji-biji mereka dalam keadaan yang halus sama sekali tanpa ada lipatan-lipatan, bagaikan telah disetrika.

Satu lagi keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang menakjubkan dari bunga-bunga ini. Mawar, misalnya, memiliki wangi yang tidak pernah berubah yang selalu dikeluarkannya. Bahkan dengan teknologi paling maju sekalipun, bau yang menyamai mawar tidak dapat dibuat.

Penelitian di laboratorium-laboratorium untuk menyerupai bau ini belum mendatangkan hasil yang memuaskan. Aroma parfum yang diproduksi dengan meniru bau mawar pada umumnya memiliki bau harum yang sedemikian kuat sehingga mengganggu orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar tidak menimbulkan gangguan apapun bagi manusia.

Orang yang beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan Allah agar ia memuji-Nya. Sadar akan hal ini, seseorang yang menyaksikan keindahan kebun ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan Allah seraya mengatakan, ''Maa syaa Allahu, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)'' (QS. Al-Kahfi, 18: 39).





republika [Rabu, 04/12/2002]
Selengkapnya...

PENYELAM MUTIARA

Penyelam Mutiara
Penulis: Permadi Alibasyah

Allah berfirman dalam Al-Qur’an pada surat Al-Hadiid ayat 20, yang artinya :

"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani: kemudian tanaman itu menjadi kering dan kau lihat warnanya kuning dan hancur….Dan kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Perjalanan hidup manusia tidak ubahnya bagaikan kisah penyelam mutiara. Seorang penyelam mutiara, dalam melaksanakan tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang terpasang dipunggungnya. Pada saat ia terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya. Tetapi begitu ia berada di bawah permukaan laut, ia mulai lupa pada apa yang harus dicarinya. Kenapa? Ternyata pemandangan di dasar laut sangat mempesona. Bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah memanggilnya: ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran dengan riangnya membuatnya terpana. Ia pun lalu terlena ikut bercanda ria, melupakan tugasnya semula untuk mencari tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.
Hingga pada suatu saat, dia terkejut manakala disadarinya osigen yang berada dipunggungnya tinggal sedikit lagi. Timbulah rasa takutnya. Tak terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkan. Maka dengan tergoppoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari mutiara yang ada di sekitarnya. Namun sayang, kekutan fisiknya sudah melemah, energinya sudah habis terkuras bercanda ria dengan keindahan alam bawah laut.
Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga walaupun tiram mutiara yang diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi, karena tergesa-gesa dia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik, sehingga ketika tersenggol ikan yang berseliweran disampingnya, tiram mutiara yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tertumpah ke luar.
Di permukaan, majikannya telah menunggu. Begitu dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang diharapkan, maka tumpahlah caci makinya: dan saat itu juga si penyelam dipecatnya tanpa pesangon sedikitpun! Tentu saja bisa kita bayangkan bagaimana gundahnya perassan si penyelam!
Dengan penuh rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempaan ulang untuk menyelam kembali, pasti aku akan mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya! ”Namun majikannya dengan tegas menolak, “Percuma engkau hanya pandai membuang-buang oksigen saja!”
Kisah ini mirip dengan perjalanan hidup manusia di dunia. Tabung oksigen adalah perlambang jatah umur manusia: tiram mutiara mengibaratkan pahala yang harus kita kumpulkan : dan tiram mutiara yang tumpah mengumpamakan pahala yang hilang karena riya’ sedangkan keindahan yang ada di dalam lautan melambangkan godaan-godaan kenikmatan duniawi.
Marilah kita instropeksi, sudah cukupkah tiram mutiara yang kita peroleh sehingga suatu saat kita harus muncul ke permukaan menemui majikan kita , Allah SWT, ia ridha menerima kita…. Apalagi ia telah berfirman dalam surat Al-Ankabuut 64 : "Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan.”





sumber : alhikmah.com [14.11.2003]
Selengkapnya...

PELAJARAN DARI NYAMUK

Pelajaran Dari Nyamuk
Penulis: Ibnu Samudin

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu” (QS.Al Baqarah : 26)

Ayat ini turun sebagai bantahan atas tuduhan kaum kuffar bahwa Al Qur’an mengandung kalimat-kalimat yang tidak layak ada dalam kitab suci, seperti laba - laba, semut, lebah, dan sebagainya.
Mereka mengangap hal itu bertolak belakang dengan kaidah keindahan dan kefasihan bahasa arab. Karenanya Allah Ta’ala membuat tantangan dengan mendatangkan uslub (bentuk/model) perumpamaan yang lebih rendah dari dugaan mereka, yakni nyamuk dalam Al Qur’an ini mengandung hikmah dan pelajaran.
Nyamuk, oleh bangsa Arab disebut Al Baudhah, birmisy, dan naamusy. Secara dhohir, nyamuk cuma serangga yang kecil dan lemah. Karenanya, wajar kalau simbol kelemahan dan kerendahan dinisbatkan pada nyamuk. Rasulullah SAW bersabda : “Jika sekiranya dunia ini sebanding disisi Allah dengan sayap seekor nyamuk, niscaya orang-orang kafir tidak akan mendapatkan bagian walau hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi)
Siapa sangka di balik kelemahannya ternyata bagian dari junudurrahman (tentara-tentara Allah) yang sangup meluluhlantakkan segala sesuatu. Misalnya kisah Namruz, raja yang sangat zalim dan menganggap dirinya Tuhan itu mati lantaran di sengat nyamuk.
Hal ini mengajarkan sesuatu yang nampak remeh dan enteng belum tentu tidak memiliki nilai. Bak air tak beriak tandanya dalam. Karenanya Aisyah RA memperingatkan sikap memandang enteng dosa-dosa yang dianggap kecil “Janganlah kalian memandang remeh sesuatu yang kecil (dosa-dosa kecil) sesungguhnya gunung yang menjulang awalnya berupa batu-batu kecil”
Karena itu jangan menganggap enteng mukmin yang secara zahir keliatan lemah dan miskin. Boleh jadi mereka menyimpan energi yang besar bagi kesuksesan perjuangan menegakan kalimat Allah. Orang-orang lemah itu bisa menjadi sebab datangnya pertolongan, kemenangan, dan kelapangan rezeki dari Allah. Nabi SAW bersabda: “Boleh jadi, seorang (mukmin) yang miskin, lemah, compang camping lagi berdebu, tertolak setiap mendatangi pintu-pintu, Tetapi jika bersumpah dan berdoa pasti Allah memperkenankan permohonannya”
Andaikan mereka tidak dapat diharapkan dari sisi materi dan pikiran, kita mendapatkan manfaat dari munajat dan doa mereka.
Disisi lain nyamuk sering lupa daratan ketika mendapat kesenangan hingga terlena dan lupa akan keselamatan dirinya. Kenyataan ini terjadi pula pada orang-orang kafir dahulu dan hari ini. Mereka menyangka dirinnya yang paling kuat dan berkuasa hanya lantaran memiliki keunggulan materi, persenjataan, dan tehnologi. Kelalaian dan kelengahan membuat mata mereka tertutup, bahwa suatu saat keangkuhan tadi bakal menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Seorang mukmin seyogyanya mawas diri dan jangan terjerumus dan tertipu seperti kaum kuffar. Tanamkan keyakinan apa yang di sisi orang-orang kafir tidak lebih berharga dari sayap seekor nyamuk . Disamping itu tumbuhkan pula rasa optimis akan dekatnya nusrah (bantuan) dari Allah, karena orang-orang yang beriman jauh lebih mulia dan lebih tinggi. Allah ta’ala berfirman : “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati padahal kamulah yang lebih tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman“ ( QS.Ali Imran : 139)



sumber : alhikmah.com [26.02.2004]
Selengkapnya...

berkreasi di alam allah

Berkreasi di Alam Allah
Penulis: Kgs. Azhar Ansori (doni@kopsucofindo.co.id)

"Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui" . [Surah Al-Baqarah (2): 22]



Allah menciptakan alam dan manusia sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Manusia memanfaatkan alam dengan segala kemampuan kreasi yang berasal dari fitrah-Nya. Manusia diberi kemampuan akal dan perasaan hati yang di dalam konsep islam sangat menjaga keseimbangan antara keduanya. Manusia yang diridhoi Allah adalah dalam setiap pemikirannya tidak terlalu menonjolkan akal, dan di lain sisi tidak terlalu menyayangi secara berlebihan terhadap materi di bumi Allah selain Penciptanya.

Allah menginginkan alam ini dimanfaatkan dengan bijaksana, dengan penuh perhitungan, dengan penuh kasih sayang sebagai perwujudan nilai suci manusia sebagai makhluk fitrah. Manusia dengan nilai luhurnya ini bisa memanfaatkan alam ini untuk kepentingan sesamanya dan kepentingan lingkungannya. Inilah eksistensi umat Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Sebuah konsep agung yang hanya dimiliki oleh agama Islam.

Reaksi Alam yang Jujur

Alam sangat jujur menampakkan reaksinya terhadap terhadap sekecil dan sebesar apapun perlakuan yang diberikan kepadanya. Alam memberikan reaksi yang buruk apabila dia diberlakukan tidak adil/buruk. Dan itu semua atas kehendak Allah. Contoh sederhana : tanaman di halaman rumah kita tidak akan tumbuh dengan subur apabila kita tidak memperlakukan sesuai dengan kebutuhan alamiahnya, tanaman butuh air, tanaman butuh nutrisi untuk tumbuh dengan baik, untuk memunculkan klorofil pada dedaunannya dan hormon florin pada bunga merahnya. Sebuah pemandangan yang sangat indah, membuat orang yang memandangnya merasa senang. Setiap manusia akan mendapatkan apa yang ia telah usahakan [QS An Najm (53):39]. Indah sekali, bisa dibayangkan kalo setiap individu melakukan hal yang sederhana ini, manfaatnya sangat besar bagi alam dan orang banyak.

Untuk menjadi khalifah di bumi Allah manusia harus menggunakan kemampuan batin dan lahirnya secara konprehensif, dan Maha Agung Allah yang telah memberikan kita berbagai potensi dahsyat untuk melakukan ini semua. Menjadi manusia yang rahmat terhadap sesamanya tidaklah harus dimulai dai hal-hal yang sulit, global dan bersakala besar. Tidak!. Kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil, sederhana saja.

Seorang psikolog terkenal Richard Carlson, Ph.D. mengingatkan bahwa perjalanan sejauh seribu kilometer dimulai dengan langkah pertama. Islam tidak menutupi kedahsyatan manfaat dari suatu hal yang sederhana. Islam sangat menjunjung tinggi mutu. Orientasi kualitas (Quality Oriented) merupakan suatu yang terasa semakin menjadi prioritas untuk saat-saat ini, baik itu di dunia bisnis maupun di linkungan social kemasyarakatan. Act locally and Think Globally, The Power of Simpicity adalah analog yang sering kita dengar, merupakan ungkapan bijak untuk menggambarkan hal-hal tersebut.

Kita dapat merasakan bagaimana Islam menganjurkan kita untuk selalu menafkahkan harta kita -- sekecil apa pun -- di jalan yang benar dan bagaimana Allah dengan karunianya melipatgandakan hal-hal yang kecil [QS Al-Baqarah (2): 261]. Sejarah telah membuktikan bagaiamana perjuangan Rasulullah juga dapat berhasil walaupun pasukan orang-orang beriman sangat terbatas bisa berbuat sesuatu yang powerful untuk mengalahkan yang lebih besar, dan akhirnya memenangi pertempuran. Jelas terlihat bahwa qualitas dan kesederhanaan bisa lebih berperan dan menentukan. Besar tidak berarti selalu menang.

Bekerja penuh berkah

Bekerja dengan segala coraknya. Rutinitas yang selalu Saya, Anda dan teman-teman seiman di sekitar kita selalu alami dari hari ke hari. Sebuah kewajiban bagi kita [QS At-Taubah (9): 105]. Sebuah siklus mata rantai dari mata rantai siklus yang lebih besar: kehidupan. Aktivitas kerja adalah suatu mata rantai yang dalam gambaran mikro perspektif islami merupakan hal yang harus dijalankan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan ibadah.

Sumber rezeki yang bisa menghidupkan manusia yang lain. Mulia dan sarat manfaat. Sebuah aktivitas mulia yang membuat manusia dapat mengerahkan semua kemampuan dirinya untuk berkreasi dalam pemanfaatan alam semesta ini untuk berbagai manfaat, suatu nilai pemanfaatan aplikatif sebagai tanggung jawab mulia terhadap alam semesta itu sendiri. Dengan bekerja menjadikan adanya perpaduan mekanisme biologis dan psikologis manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai wujud ikhtiar, penyerahan diri [QS At-Taubah (9): 51] dan doa sebagai kewajiban manusia sebagai khalifah di bumi-Nya [QS Fathir (35): 39] dan Allah selalu melihat perbuatannya [QS Al-A'raf (7): 129].

Balancing: Social dan Spiritual Relationship

Di dalam bekerja banyak sekali pintu-pintu amal unttuk berbuat rahmat. Ary Ginanjar Agustian, dalam buku Best Seller-nya : "ESQ (Emotional Spiritual Quotient)" mengungkapkan bahwa lingkungan kerja yang di dalam setiap aktivitasnya diniatkan dengan rahmat (tanpa pamrih) dan karena Allah (Efektivitas Bismillah) kepada setiap orang maka akan memberikan hasil yang luar biasa, tidak terduga dan penuh solusi.

Subhanallah, adalah Allah Yang Maha Menyeimbangkan (Al-Muqsith; The Equitable) ikhtiar dan hasil. Bekerja merupakan pintu berkah bagi kita dan keluarga kita yang menjalankannnya dengan tulus. Hal ini pun dicontohkan oleh Rasulullah yang di dalam setiap tanduknya selalu berbuat mulia karena memang beliau dicipatakan oleh yang Maha Mulia. Dari beliaulah seharusnya setiap tindak tanduk kita dalam mencari kerja kita fokuskan. Dan suatu hal yang telah terbukti secara empiris bahwa semua aktivitas yang didasarkan kepada tauladan Rasul berkorelasi positif terhadap hasil yang didapatkan.

Kemudian bagaimana kita melihat Rasulullah melakukan hal-hal yang sederhana. Rasulullah sangat gemar tersenyum kepada setiap orang, sehingga wajar sekali kalu dia sangat disayangi banyak orang, perdagangannya berhasil, dan dakwahnya berhasil luar biasa. Senyum, bahasa yang paling bisa di mengerti oleh orang di seluruh dunia. Dari sebuah penelitian dikatakan bahwa pada saat tersenyum otot wajah yang bekerja hanya setengah dari otot wajah yang cemberut. Subhanallah.

Hasil (earn) menurut Islam adalah hasil yang dari setiap proses usaha (ikhtiar) manusia yang selalu difokuskan pada optimalisasi ikhtiar yang masih berada pada keseimbanganya dengan dengan tercapainya ridho Allah. Yusuf Qordhawi dalam bukunya "Merasakan Kehadiran Tuhan" mendominasikan konsep ini sebagai jawaban terhadap kekhawatiran, keluhan sebagian orang bahwa Islam (bahkan kaum Mukmin) identik dengan hal-hal yang dalam usaha dan setiap kegiatannya terlena hanya dengan kenikmatan ibadah yang terfokus untuk investasi akhirat saja. Padahal tidak cuma itu! Allah memberikan semua yang ada di alam ini untuk kita kelola, jaga, optimalisasi dengan mengharap ridho Allah sang Maha Pencipta Alam ini.

Segala aktivitas manusia, mencari nafkah, berbuat baik terhadap lingkungan dan sesama merupakan "ajang" bagi manusia untuk memanfaatkan alamnya. Tidak ada larangan untuk memanfaatkan alam, bahkan Allah mengisyartakan kita untuk menggali ilmu-ilmu tentang Alam [QS Al-Jatsiyah (45): 13].

Janji Allah

Semuanya akan bisa jadi bernilai ibadah apabila kita kerjakan karena Allah, bahkan sesuatu yang kita lakukan bernilai besar tetapi mungkin bisa jadi akan menjadi sangat kecil dan sangat tidak berarti apabila kita tidak melakukan dengan ikhlas karena Allah. Allah Maha Adil (Al 'Adl), Maha Melihat (Al Bashir) dan Mendengar (As Saami') apapun yang sedang kita lakukan [QS Qaaf (50):16].

Kita sangat beruntung beragama Islam. Kurang apa agama kita ini? Satu-satunya agama Allah yang membuka selebar-lebarnya pintu rahmat, rezeki, nikmat suatu hal yang dijanjikan Allah untuk ummat-Nya yang bertaqwa. Agama yang memungkinkan kita dengan mudah untuk melakukan apa saja di dunia ini dengan penuh kerelaan dan menyerahkan semua rangkaian usaha dan hasilnya ke pada Allah yang mempunyai alam semesta ini. Dari sekecil apa pun hal yang kita lakukan dan ini adalah janji Allah.

Wallaahu a'lam bissawab.





sumber : alhikmah.com [20.05.2003]
Selengkapnya...

Tuesday, February 2, 2010

LINGKUNGAN

Indonesia: Profil Lingkungan
Indonesia merupakan rumah dari hutan hujan terluas di seluruh Asia, meski Indonesia terus mengembangkan lahan-lahan tersebut untuk mengakomodasi populasinya yang semakin meningkat serta pertumbuhan ekonominya.

Sekitar tujuh belas ribu pulau-pulau di Indonesia membentuk kepulauan yang membentang di dua alam biogeografi - Indomalayan dan Australasian - dan tujuh wilayah biogeografi, serta menyokong luar biasa banyaknya keanekaragaman dan penyebaran spesies. Dari sebanyak 3.305 spesies amfibi, burung, mamalia, dan reptil yang diketahui di Indonesia, sebesar 31,1 persen masih ada dan 9,9 persen terancam. Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 29.375 spesies tumbuhan vaskular, yang 59,6 persennya masih ada.

Penebangan Hutan

Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara ini telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi.



Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini. Bahkan, banyak dari sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan terdegradasi.






Efek dari berkurangnya hutan ini pun meluas, tampak pada aliran sungai yang tidak biasa, erosi tanah, dan berkurangnya hasil dari produk-produk hutan. Polusi dari pemutih khlorin yang digunakan untuk memutihkan sisa-sisa dari tambang telah merusak sistem sungai dan hasil bumi di sekitarnya, sementara perburuan ilegal telah menurunkan populasi dari beberapa spesies yang mencolok, di antaranya orangutan (terancam), harimau Jawa dan Bali (punah), serta badak Jawa dan Sumatera (hampir punah). Di pulau Irian Jaya, satu-satunya sungai es tropis memang mulai menyurut akibat perubahan iklim, namun juga akibat lokal dari pertambangan dan penggundulan hutan.

Penebangan kayu tropis dan ampasnya merupakan penyebab utama dari berkurangnya hutan di negara itu. Indonesia adalah eksportir kayu tropis terbesar di dunia, menghasilkan hingga 5 milyar USD setiap tahunnya, dan lebih dari 48 juta hektar (55 persen dari sisa hutan di negara tersebut) diperbolehkan untuk ditebang. Penebangan hutan di Indonesia telah memperkenalkan beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia pada pembangunan. Setelah berhasil menebangi banyak hutan di daerah yang tidak terlalu terpencil, perusahaan-perusahaan kayu ini lantas memperluas praktek mereka ke pulau Kalimantan dan Irian Jaya, dimana beberapa tahun terakhir ini banyak petak-petak hutan telah dihabisi dan perusahaan kayu harus masuk semakin dalam ke daerah interior untuk mencari pohon yang cocok. Sebagai contoh, di pertengahan 1990an, hanya sekitar 7 persen dari ijin penambangan berada di Irian Jaya, namun saat ini lebih dari 20 persen ada di kawasan tersebut.

Di Indonesia, penebangan kayu secara legal mempengaruhi 700.000-850.000 hektar hutan setiap tahunnya, namun penebangan hutan illegal yang telah menyebar meningkatkan secara drastis keseluruhan daerah yang ditebang hingga 1,2-1,4 juta hektar, dan mungkin lebih tinggi - di tahun 2004, Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan bahwa 75 persen dari penebangan hutan di Indonesia ilegal. Meskipun ada larangan resmi untuk mengekspor kayu dari Indonesia, kayu tersebut biasanya diselundupkan ke Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia lain. Dari beberapa perkiraan, Indonesia kehilangan pemasukan sekitar 1 milyar USD pertahun dari pajak akibat perdagangan gelap ini. Penambangan ilegal ini juga merugikan bisnis kayu yang resmi dengan berkurangnya suplai kayu yang bisa diproses, serta menurunkan harga internasional untuk kayu dan produk kayu.

Agrikultur

Beberapa tahun terakhir ini, wilayah hutan yang luas telah banyak diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia bertambah dari 600.000 hektar di tahun 1985 hingga lebih dari 4 juta hektar pada awal 2006 ketika pemerintah mengumumkan rencana untuk mengembangkan 3 juta hektar tambahan untuk perkebunan kelapa sawit di tahun 2011. Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah tanaman perkebunan yang sangat menarik, karena merupakan minyak sayur termurah dan memproduksi lebih banyak minyak per hektar bila dibandingkan dengan bibit minyak lainnya. Di masa ketika harga energi cukup tinggi, minyak sawit tampak sebagai jalan terbaik untuk memenuhi meningkatnya permintaan biofuel sebagai sumber energi alternatif.

Walau menghabisi hutan hujan yang masih alami dan perkebunan kelapa sawit boleh dibuat di atas lahan hutan yang telah terdegradasi, penggundulan hutan diijinkan asalkan prosesnya dinyatakan sebagai langkah awal untuk mendirikan perkebunan. Karenanya perkebunan kelapa sawit kerap menggantikan hutan alami. Yang tengah menjadi kepedulian para pemerhati hutan adalah proyek 2 juta hektar yang direncanakan di Kalimantan Tengah. Rencana ini - yang dibiayai oleh Cina dan didukung oleh pemerintah Indonesia - telah dikritik oleh kelompok-kelompok peduli lingkungan hidup. Menurut mereka pengubahan hutan alami menjadi monokultur pohon kelapa sawit mengancam keanekaragaman hayati dan sistem ekologi. World Wildlife Fund, yang selama ini termasuk vokal mengutuk kondisi tersebut dan mempunyai beberapa peneliti di lapangan untuk menaksir wilayah yang potensial terpengaruh, telah mengeluarkan beberapa laporan tentang keberagaman biologis di daerah tersebut (361 spesies baru ditemukan di Borneo antara tahun 1994-2004).
























Cara tercepat dan termurah untuk mengosongkan suatu lahan baru untuk perkebunan adalah dengan membakarnya. Tiap tahun, ratusan dari ribuan hektar are berubah menjadi asap saat para pengembang dan petugas perkebunan terburu-buru menyalakan api sebelum musim hujan datang. Di musim kemarau - terutama selama tahun-tahun el Nino - api ini dapat terbakar di luar kendali selama berbulan-bulan, menyebabkan polusi mematikan yang mempengaruhi negara-negara tetangga dan menyebabkan berkobarnya pula kemarahan politis.

Di tahun 1982-1983, lebih dari 9,1 juta are (3,7 juta hektar) terbakar di Borneo sebelum musim hujan datang, sementara lebih dari 2 juta hektar hutan dan semak belukar terbakar selama masa el Nino tahun 1997-1998, menyebabkan kerugian hingga 9,3 milyar USD. Kebakaran tersebut juga menyebabkan kerusakan yang parah dan bermacam-macam terhadap ekonomi, politik, sosial, kesehatan, dan ekologi di Indonesia, sementara negara-negara tetangga Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand yang tergabung dalam ASEAN telah berada di suasana krisis ekonomi. Analisa satelit mengenai kebakaran di tahun 1997-1998 menjelaskan bahwa 80 persen dari kebakaran ini terkait pada pemegang ijin perkebunan atau penebangan hutan.

Kabut asap dari kebakaran tahun 2005-2006 menyebabkan panasnya hubungan antara pemerintah Malaysia dan Indonesia. Malaysia dan Singapura telah menawarkan bantuan untuk menanggulangi kebakaran di Indonesia, sambil secara bersama-sama menimpakan kesalahan pada negara tersebut atas tidak adanya peningkatan dalam mengendalikan kebakaran. Indonesia, sebaliknya, menyalahkan perusahaan-perusahaan Malaysia karena melakukan penebangan hutan ilegal di negara itu, yang menyebabkan hutan-hutannya menjadi mudah terbakar.

Meski ada pencegahan, termasuk permintaan Indonesia agar dapat menerapkan hukuman mati bagi penebang liar dan pembuat api, kebakaran seperti itu diperkirakan justru akan bertambah parah di masa depan saat kawasan hutan tersebut menghadapi peningkatan kekeringan akibat perubahan dan penurunan iklim.

Kebakaran rawa gemuk di Indonesia merusak akibat muatan karbon yang tinggi di ekosistem - Dr. Susan Page, dari Universitas Leicester, mengestimasikan bahwa tanah gemuk di Asia Tenggara bisa mengandung hingga 21 persen dari selueuh karbon tanah dunia. Kebakaran di tahun 1997 melepaskan 2,67 milyar ton karbon dioksida ke atmosfer.

Masalah Populasi

Kebakaran di Indonesia diperparah dengan kurangnya pengarahan pada program transmigrasi pemerintah yang memindahkan keluarga-keluarga miskin dari pulau-pulau pusat yang padat ke daerah yang lebih jarang penduduknya di pulau lain. Dalam program lebih dari 2 dekade ini, lebih dari 6 juta migran - 730.000 keluarga - direlokasikan ke Kalimantan, Irian Jaya, Sulawesi, dan Sumatera. Ketidaktahuan mengenai cara bercocok tanam di daerah tersebut menyebabkan banyak transmigran dibayar rendah. Di tahun 1995, mantan Presiden Suharto mencanangkan "Proyek Satu Juta Hektar", sebuah proyek ambisius untuk memindahkan 300.000 keluarga dari Jawa ke Kalimantan Tengah dan menaikkan produksi beras hingga 2,7 juta ton per tahun. Selama 2 tahun, para pekerja menggundulkan hutan dan menggali hampir 3.000 mil kanal yang bertujuan untuk menjaga kekeringan tanah selama musim hujan dan untuk irigasi selama musim kemarau. Namun karena tanah gemuk lebih tinggi dari sungai, rencana tersebut gagal karena kanal-kanal tersebut justru membawa seluruh kelembaban keluar dari tanah gemuk. Kegagalan proyek ini ditambah dengan kekeringan selama 8 bulan akibat tahun el Nino yang intens. Di tahun 1997, tanah-tanah gemuk yang kering ini terbakar. Kebakaran di daerah lain Indonesia ini terhubung pada daerah-daerah hunian yang didirikan selama program transmigrasi.

Penambangan

Praktek penambangan mempunyai efek merusak pada hutan dan suku pedalaman di Indonesia. Proyek yang terbesar dan paling terkenal adalah pertambangan Freeport di Irian Jaya, dilakukan oleh Freeport-McMoran. Berbasis di New Orleans, Freeport-McMoran telah menjalankan pertambangan emas, perak, dan tembaga Gunung Ertsberg di Irian Jaya, Indonesia, selama lebih dari 20 tahun dan telah mengubah gunung itu menjadi lubang sedalam 600 meter. Seperti yang telah didokumentasikan oleh New York Times dan banyak kelompok lingkungan hidup, perusahaan pertambangan tersebut membuang limbah dalam ukuran yang mengejutkan ke dalam sungai-sungai lokal, membuat aliran dan daerah basahnya menjadi "tidak cocok untuk kehidupan akuatik". Bergantung pada petugas-petugas militer bergaji besar, pertambangan ini dilindungi oleh tentara swasta virtual yang terlibat dalam kematian sekitar 160 orang antara tahun 1975 dan 1997 di area pertambangan.

Menurut perkiraan, Freeport menimbulkan 700.000 ton limbah setiap harinya dan limbah batu yang tersimpan di dataran tinggi - kedalaman 900 kaki di berbagai tempat - saat ini telah mencapai luas 3 mil persegi. Survey pemerintah menemukan bahwa pertambangan tersebut telah menghasilkan tingginya tingkat tembaga dan sedimen hingga hampir semua ikan menghilang dalam radius sekitar 90 mil persegi daerah basah di sepanjang sungai di sekitar lokasi mereka.

Menyelidiki perusakan lingkungan dan praktek-praktek hak asasi manusia yang dipertanyakan di Freeport merupakan suatu tantangan tersendiri karena tambang tersebut adalah salah satu dari sumber pendapatan terbesar bagi pemerintah Indonesia. Seorang peneliti pemerintahan Indonesia menulis bahwa "produksi tambang tersebut sangatlah besar, dan perangkat pengaturannya sangat lemah, sehingga membujuk Freeport untuk menuruti permintaan menteri untuk mengurangi kerusakan lingkungan adalah bagaikan 'melukis di awan'," menurut artikel di New York Times 27 Desember 2005.

Kroni dan Korupsi

Manajemen hutan di Indonesia telah lama dijangkiti oleh korupsi. Petugas pemerintahan yang dibayar rendah dikombinasikan dengan lazimnya usahawan tanpa reputasi baik dan politisi licik, larangan penebangan hutan liar yang tak dijalankan, penjualan spesies terancam yang terlupakan, peraturan lingkungan hidup yang tak dipedulikan, taman nasional yang dijadikan lahan penebangan pohon, serta denda dan hukuman penjara yang tak pernah ditimpakan. Korupsi telah ditanamkan pada masa pemerintahan mantan Presiden Jendral Haji Mohammad Soeharto (Suharto), yang memperoleh kekuasaan sejak 1967 setelah berpartisipasi dalam perebutan pemerintahan oleh militer di tahun 1967. Di bawah pemerintahannya, kroni tersebar luas, serta banyak dari relasi dekat dan kelompoknya mengumpulkan kekayaan yang luar biasa melalui subsidi dan praktek bisnis yang kotor.

Tradisi kapitalisme kroni ini mempunyai peran yang sangat penting dalam lemahnya respon pemerintah terhadap kasus kebakaran hutan pada krisis tahun 1997-1998. Menurut managing director IMF, Indonesia tidak mampu menggunakan dana reboisasi non-bujeter mereka untuk melawan kebakaran karena dana tersebut telah dialokasikan untuk proyek mobil yang gagal milik anak Suharto. Walaupun dana milyaran tersebut ditarik dari pajak kayu, dana itu telah lama digunakan sebagai cara yang tepat untuk mendistribusikan kekayaan kembali pada lingkaran elit ekonomi Indonesia, orang-orang dekat dari orang terkuat pada masa itu. IMF mengatakan bahwa dana tersebut kebanyakan telah digunakan untuk menyediakan pinjaman berbunga rendah pada perusahaan komersial kayu dan perkebunan untuk pembukaan hutan dan mengganti hutan alami tadi dengan pinus, eucalyptus, dan pohon akasia untuk produksi kertas.

Masa Depan

Hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram. Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saat ini kebanyakan pariwisata terfokus pada sekedar liburan di pantai. Sex-tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi, dan pembangunan resort.
dikutip dari mongabay.com
Selengkapnya...

teman-teman

alam..........yang indah